Minggu, 31 Agustus 2014

Polres Mura Kerahkan Brimod Ke Murata, Pembakaran PT Galtam

MURATARA- SUMSEL -- Pada Minggu (31/8/2014), pukul 10.00 wib telah terjadi aksi pengerusakan disertai pembakaran camp PT Galtam oleh warga Desa Lubukmas Kecamatan Ulurawas. Sumsel.

Kapolres Musirawas AKBP Chaidir mengatakan, motifnya adalah para pelaku ingin bertemu dengan pihak management PT Galtam untuk mempertanyakan janji perusahaan yang akan memberdayakan warga sebagai karyawan dan pembangunan jembatan gantung. Tetapi karena pihak PT Galtam tidak ada di lokasi akhirnya warga merusak dan membakar 3 unit kamp transit dan 1 unit pos security (camp tersebut terbuat dari dinding papan, ukuran masing-masing camp 6x8 m, nilai kerugian ditaksir sekitar 75 jutaan).

Menyikapi kejadian tersebut kata Kapolres Mura, pihaknya telah mengambil langkah-langkah antara lain, kordinasi dengan Bupati, Asisten 1 Pemda Muratara, serta camat. Selanjutnya, meminta bantuan BKO Brimob 65 orang, melakukan penangkapan terhadap 4 orang yang diduga pelaku atas nama, Ali (52) (membawa solar dan membakar), Awaludin (38) (membawa solar dan membakar), Yaman(30) (membawa solar dan membakar) dan Hasbullah (42) (provokator mengajak dak membakar).

"Selanjutnya, kami menempatkan satu peleton Brimob di Polsek Rawas Ulu, kemudian berkordinasi dengan Kades Lubukmas agar mengendalikan warganya. Sampai saat ini situasi sudah terkendali dan belum ada indikasi reaksi warga," katanya.

Menurut Chaidir, pihaknya sudah mengerahkan pasukan keamanan yang diback-up oleh Brimob. Saat ini, pihaknya sedang melakukan mediasi dibantu dengan unsur pimpinan kecamatan setempat.

“Saat ini masih kami selidiki (motif pembakaran – red), sebelumnya pernah terjadi masalah sengketa tanah yang belum diselesaikan. Terkait peristiwa ini, baru saja kami mengamankan empat orang yang diduga pelaku, termasuk kordinator lapangannya (Korlap) berinisial HS,” katanya. (zie/sripoku)

Wakil Bupati Agam Hadiri Halal bi Halal Dan Pelanntikan IKAB Palembang

PALEMBANG - Wakil Bupati Kabupaten Agam Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Fikri SH menghadiri Halal Bihalal Ikatan Keluarga Besar Agam Bukittinggi (IKAB) di Palembang di Aula Kampus STIFI Bhakti Pertiwi Jalan Ariodillah Palembang, Minggu (24/08/2014).

Halal bihalal yang dimeriahkan kesenian minang juga dihadiri Staf Walikota Bidang Politik Hukum dan HAM, Prof DR HM Edwar Juliarta SSos MM, yang sekaligus melantik pengurus IKAB Palembang Priode 2014-2018 yang diketuai Drs Noprizon Apt.

Edwar dalam sambutannya mengatakan bahwa di Palembang banyak orang minang yang menjadi pionir atau pemimpin, memegang posisi kunci sebagai alim ulama, guru, dosen, pejabat daerah, direktur perusahaan serta pimpinan politik dan lembaga sosial lainnya.

Semua itu menunjukkan bahwa masyarakat Minang sudah membaur bahu membahu membangun kota Palembang bergandeng tangan dengan suku bangsa yang lain.

"Untuk itu diharapkan kepada anggota IKAB Palembang ini untuk terus dipupuk dan berlanjut serta dapat ditingkatkan lagi dimasa mendatang. Selain itu dapat memberikan kontribusinya dalam perkembangan danpercepatan pembangunan di Kota Palembang," pungkasnya.

Sementara itu Wakil Bupati Agam Irwan Fikri SH, mengatakan Pemerintah Agam memberikan presiasi/penghargaan kepada warga Palembang yang berasal dari Agam dan Bukittinggi yang telah memiliki organisasi yang solid yakni IKAB yang telah banyak memberi kontribusinya kepada masyarakat di kampung.

"Hal ini membuktikan bahwa urang awak di Palembang ini memiliki kepedulian yang cukup tinggi dan luar biasa." ujar Wabup.

Ke depannya diharapkan kepada warga IKAB untuk dapat membuat terobosan baru untuk kemajuan organisasi dan pembangunan kota Palembang serta untuk selalu memberikan kontribusi pembangunan kota Palembang dan Kampung halaman.

Dalam kesempatan itu Wabup juga memaparkan program-program yang tengah dijalankan di antaranya  program unggulan Kabupaten Agam Gerakan Masjid Bersih,  Gerakan Agam Menyemai, Gerakan Agam Maghrib Mangaji, Gerakan Ikhlas Berzakat dan Gerakan Agam Membaca.

Fadli Pelajar SMKN2 Bukittinggi Tewas Tabrak Lari * Bercita Cita Jadi Atlit Basket




Padang- Malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih, begitu halnya menimpa dua pelajar kelas II SMKN 2 Bukitttiggi Fadli Hidayat (18) warga Jalan Jenderal Sudirman Bukittinggi dan Fabryan saputra di panggil Aby (16) warga Birugo Indah Bukittinggi menjadi korban tabrak lari di Kayu Tanam Jalan Lintas Padang- Bukittinggi, Minggu (10/08/2014) lalu. Akibat musibah itu Fadli HIdayat meninggal dunia dan aby mengalami luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Umum Ahmad Muchtar Bukittinggi dan sebelumnya sempat di rawat di RS Djamil Padang.

Menurut saksi mata Muharnita (41 thn) dan Dewi (35 thn) dan keterangan yang diperoleh News Hunter, sekitar pukul 17.00, Fadli Hidayat mengendarai sepeda motor beat dengan membonceng aby bermaksud pulang ke Bukittinggi. Namun ketika sepeda motor yang dikendarai Fadli meluncur di Kayu Tanam Jalan Lintas Padang-Bukittinggi, tiba-tiba dari belakangnya dengan kecepatan tinggi muncul honda revo berwarna hitam dan menyerempet sepeda motor yang dikendarai Fadli, dan kedua pelajar SMKN 2 Bukittinggi ini terpental. Pengandara sepeda motor honda Revo  yang menyerempet sepeda motor korban bukanya menolong korban malah tancap gas ke arah Bukittinggi.


Masyarakat setempat mengetahui kejadian itu segera berhamburan ke jalan dan memberi pertolongan dengan membawa korban ke Puskesmas terdekat karena luka yang dialami korban cukup parah mereka di rujuk ke RS Djamil Padang. Namun malang bagi Fadli karena luka yang dialaminya cukup serius dibagian kepala sesampai di RS Djamil Padang ia menghembukaskan nafasnya yang terakhir. Sedangkan Aby yang mengalami patah rahang dan dibahu sebelah kiri, karena keluarganya tinggal di bukittinggi Aby malam harinya dibawa ke Bukittinggi dan di rawat di RS Ahmad Muchtar Bukitinggi. Sedangkan Jenazah Fadli dibawa keluarganya ke kampung halamanya Palembayan Agam untuk dimakakan.

Brig Pol Rozi Syofian, petugas Polres Pariaman, ketika dihubungi News Hunter, membenarkan kecelakaan tersebut. Menurut Rozi bahwa sepeda motor Honda Revo yang menabrak melarikan diri."Kini kami tengah melacah keberadaan sepeda motot tersebut," ungkapnya. Kasus tabrak lari ini telah ditangani Polres Pariaman Sumatera Barat.

Orang tua Fadli,,ketika dihubungi News Hunter, tak menyangka musibah menimpa anaknya, jenazah Fadli katanya telah dimakamkan di Palembayan Agam Senin (11/08/2014) diantar ratusan pelayat. Orang tua Aby Nerawati yang wartawan News "Alhamdulillah Aby sudah mulai membaik," ujarnya. Nerawati dan keluarga FAdli berharap kepada POlres Pariaman mengunsud tuntas kejadian tabrak lari yang menimpa kelurga mereka. "Mudah-mudahan pelaku tabrak lari segera menyerahkan diri kepada yang berwajib. Bagaimana rasanya kalau musibah itu dialami oleh keluarganya," pungkas Nerawati sambil menunggu anaknya di rawat dirumah sakit.


Fadli Anak Baik

Sejumlah teman alamarhum Fadli, ketika dihubungi, mengaku merasa kehilangan, berapa hari lalu kami sempat foto foto dengan fadli. fadli anaknya baik dan mudah bergaul. "Kami tidak percaya kalau fadli itu telah tiada." ujar Agung. Fadli merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan
Hayatul Mugkin dan Raudati. Fadli disekolah adalah seorang pemain basket.Bahkan fadli semasa hidupnya bercerita kepada Aby, pingin menjadi atlet basket." Tapi ya fadli telah tiada, fadli meninggalkan kami semua," ujar aby yang terbaring di rumah sakit Achmad Muchtar Bukittinggi yang ditunggui ibundanya dan kakaknya vany.(Ratna Dewi)

Mantan Anggota DPD Laporkan Gubernur Riau ke Polisi, Kasus Asusila

Jakarta, Aktual.co — Wide Wirawaty, putri tokoh pendidikan Riau dan mantan anggota DPD RI Soemardi Thaher, melaporkan Gubernur Riau Annas Maamun ke Badan Reserse Kriminal Polri dalam kasus dugaan tindakan asusila.

"Lebih menyakitkan lagi, korbannya adalah anak kandung saya yang sangat saya sayangi, darah daging saya. Kalau dia disakiti, saya ikut sakit. Apa yang mengganggu perasaannya, tentulah mengganggu perasaan saya juga," kata Soemardi Thaher di rumahnya di Pekanbaru, Minggu (31/8).

Berdasarkan Tanda Bukti Lapor, Wide Wirawaty melapor ke Bareskrim Polri pada 27 Agustus 2014 dengan laporan polisi Nomor LP/797/VIII/2014/Bareskrim dengan terlapor Gubernur Riau Annas Maamun.

Perkara yang dilaporkan adalah tindak pidana dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan.

Soemardi tidak bisa menahan tangisnya saat mengatakan harus mengungkap kasus yang menimpa putri kelimanya tersebut, meski hal ini membuka aib keluarga.

Apalagi, katanya, pelakunya adalah orang nomor satu di Riau yang kedudukannya terhormat, punya kekuasaan dan wewenang luas.

Ia menyayangkan terjadinya kasus ini karena sebenarnya dirinya mengenal cukup baik sosok Annas Maamun dan sebagai gubernur seharusnya dapat menjadi panutan.

"Dia (Annas) seyogyanya menjadi tumpuan utama bagi hak dan perlindungan perempuan. Harapan saya ini harus dibuka lebar-lebar. Saya bilang ke anak saya, buka lebar-lebar apa yang terjadi," ujar mantan anggota DPD RI periode 2004-2009 ini.


Kerenologis kejadian..

Jakarta, Aktual.co —Wide Wirawaty menjelaskan tindakan asusila yang dilakukan Gubernur Riau kepadanya.
Menurut  Soemardi Thaher, (ayah Wide) selama ini putrinya yang kini berusia 38 tahun memiliki kegiatan di Pemprov Riau antara lain sebagai tutor kepala pada pelatihan bahasa inggris untuk eselon II dan III di bawah lembaga pendidikan "Wide School" yang dimiliki putrinya.

Setelah beberapa bulan Annas Maamun menjabat gubernur, Wide menghadap ke Annas untuk membawa proposal kegiatan pelatihan dan seminar.

Menurut dia, respons Annas sat itu sangat positif untuk mendukung kegiatan itu, bahkan menjanjikan akan mengangkat Wide sebagai staf khusus gubernur.

Kronologis dalam surat pernyataannya yang turut dilampirkan dalam laporan ke polisi, Wide Wirawaty mengungkapkan kejadian nahas itu terjadi pada hari Jumat tanggal 30 Mei 2014. Wide menghadap gubernur menjelang shalat Jumat untuk mengurus kepastian administrasi seminar yang disetujui oleh gubernur.

Namun karena waktu yang mepet, urusan tersebut tidak selesai dan Annas meminta korban datang ke rumah pribadinya di Jalan Belimbing, Pekanbaru.

Korban mengaku tidak ada perasaan lain sedikit pun karena merasa Annas adalah seorang gubernur yang memegang amanah. Saat tiba di rumah tersebut, korban diterima oleh seorang laki-laki yang merupakan pembantu rumah tangga Annas Maamun.

Annas dan Wide berbicara di ruang tamu untuk memperlihatkan surat-surat yang belum sempat diteken gubernur pada pertemuan sebelumnya.

Ketika korban mengambil pena untuk meneken dokumen itu ke mobilnya, sekembalinya ke dalam rumah pembantu Annas mengarahkannya untuk naik ke lantai atas.

Dalam pertemuan itu, Annas mengeluarkan uang Rp10 juta dari kaus kakinya yang katanya untuk keperluan acara yang sedang digagas Wide.

Saat korban hendak pamit, Annas mendekatinya sembari mengatakan ada rumah kosong di belakang rumahnya.

Korban yang penasaran dengan maksud sang gubernur kemudian diajak oleh Annas ke sebuah kamar yang berada di atas tangga sebelah kiri ruangan. korban mengaku tidak ada perasaan apa pun karena mengira Annas akan menjelaskan masalah kamar kosong itu.

Namun, setelah keduanya di dalam kamar, Annas langsung membuka resleting celananya. Korban mengaku terkejut namun tangan kanannya langsung ditarik oleh Annas dengan paksa dan diarahkan untuk memegang bagian terlarang tubuh gubernur.

Karena korban merasa tidak nyaman dan takut akan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak senonoh, Wide mengalihkan Annas dengan mengatakan ada orang yang naik ke lantai atas.

Ketika Annas ke luar kamar untuk memeriksanya, korban langsung mencuci tangannya di wastafel di wc kamar tersebut dan langsung ke luar kamar dan masih sempat berpapasan dengan Annas.

Annas kemudian meninggalkan Wide dengan muka masam dan hanya menjawab dengan ketus ketika Wide mohon pamit. Wide dalam surat pernyataan tersebut mengatakan perasaan ternoda terus menghantuinya karena tidak menyangka seorang gubernur tega melakukan pelecehan seksual.

Soemardi Thaher mengatakan setelah kejadian tindakan asusila tersebut muncul berbagai bentuk tindakan Annas Maamun lainnya sebagai upaya menutupi kasus tersebut, namun hal itu malah memperkuat bukti bahwa tindakan asusila itu benar adanya.

Soemardi mengatakan Wide memiliki rekaman pembicaraan telepon dengan Annas yang mengatakan ada orang yang mengaku meminta uang Rp4 miliar ke gubernur dengan mengancam kasus ini akan dibuka ke publik.

"Kasus ini dibiaskan menjadi kasus pemerasan dan unsur politik untuk menjatuhkan gubernur. Tapi itu akal-akalan dia (Annas) saja. Kalau saya yang meminta uang itu, laporkan saya kepada polisi. Atau kalau Wide yang meminta, polisikan saja dia," tegas Soemardi.

Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Joserizal Zen, tidak mau berkomentar ketika dimintai konfirmasi terkait kasus hukum terhadap Gubernur Riau Annas Maamun.

Joserizal juga tidak bisa memastikan apakah Gubernur Riau Annas Maamun mau mengomentari ataupun akan mengambil tindakan hukum balasan terhadap pelapor. "Jangan dulu, lah," kata Joserizal lewat sambungan telepon.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar belum membalas ketika dihubungi Antara lewat sambungan telepon untuk mengonfirmasi laporan terhadap Gubernur Riau Annas Maamun. Sedangkan, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny Franky Sompie ketika dihubungi telepon selulernya tidak aktif. (Ant)

Sabtu, 30 Agustus 2014

Perampok Bunuh Majikan dan Pembantu Kajadian di Rumah Mewah

Perampok Bunuh Majikan dan Pembantu
Kajadian di Rumah Mewah

PALEMBANG -- Perampokan berdarah terjadi di sebuah rumah mewah di Jalan Rw Mongosidi RT 01/1 No 24 Kelurahan Kalidoni Kecamatan Kalidoni Palembang, Sabtu (23/8/2014) antara pukul 14.00 sampai pukul 15.00. Dalam peristiwa berdarah itu, diketahui seorang pemilik rumah Hj Mariam (60) dan seorang pembantunya, Masnun, ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Selain menghabisi nyawa majikan dan pembantu, para pelaku juga membawa kabur 15 suku emas, dan uang tunai Rp 20 juta, hingga korban mengalami kerugian mencapai Rp 65 juta.

menurut Informasi yang dihimpun News Hunter di lapangan  siang itu, kedua korban sang majikan dan pembantu, sedang berada di rumah, menunggu jemputan untuk pergi ke acara yasinan naik haji keluarganya. Kemudian, datang para pelaku yang salah satunya berpura-pura sebagai petugas PLN hendak mengecek meteran listrik.

Selain itu satu pelaku,  diduga masih ada pelaku lain, dimana dua pelaku masuk dari belakang rumah korban, sedang satu pelaku lagi berada di jalanan depan rumah dan mengawasi situasi. Namun, aksi para pelaku diperkirakan senjata tajam itu, tidak berlangsung mulus. Sebab, saat kedua pelaku dari belakang hendak masuk rumah korban, malah dipergoki sang pembantu, yang langsung teriak maling.

Sadar dengan aksinya dipergoki, kedua pelaku langsung menghabisi nyawa sang pembantu atau korban Masnun, sebelum dimasukkan ke gudang. Namun, keributan kedua pelaku dengan sang pembantu di bagian belakang rumah itu, didengar sang majikan atau korban Hj Mariyam, yang berusaha keluar rumah, mencari pertolongan. Lagi-lagi, Mariyam juga dianiaya para pelaku hingga tewas di ruang depan rumahnya.

Setelah membunuh kedua korbannya, para pelaku langsung menuju kamar, dan mengambil perhiasan dan uang sang majikan atau korban Hj Mariyam, ditaksir kerugian mencapai Rp 65 juta. Usai mendapat barang berharga para pelaku kabur diperkirakan mengendarai kendaraan, sepeda motor


Peristiwa itu pertama di ketahui adik ipar korban Fatimah. Menurut Fatimah saat itu dirinya datang ke rumah korban bermaksud untuk mengajak pergi ke tempat keluarga hajatan Haji di 11 Ilir.

"Awalnya, kami itu sudah janjian untuk pergi ke hajatan bersama. Saat hendak pergi sekitar pukul 14.30, saya pun menyempatkan diri untuk menjemputnya. Berhubung beberapa kali saya panggil tidak ada jawaban dan saat itu juga saya melihat pintu samping sedikit terbuka. Setelah saya mendekat, saya melihat percikan darah dan dari sela pintu itu saya melihat seseorang yang terlentang," jelasnya.

Karena merasa takut dan sudah curiga dengan melihat dua hal tersebut (percikan darah dan seorang terkapar-red), ia pun segera pergi dan langsung menginformasikan kepada para tetangga serta menelepone suami korban H Ibrahim.

Sedangkan keterangan Jihan, cucu pertama korban menjelaskan,kepada wartawan biasanya setiap pulang sekolah dirinya selalu mampir, tapi saat kejadian ini, dirinya tidak sempat karena mau pergi sama teman-temannya. "Tadi saat lewat di rumah nenek, saya sempat melihat di depan rumah ada satu orang mengenakan kemeja lengan pendek warna biru membawa sepeda motor berwarna putih tapi saya lupa motor apa. Saya tidak ada firasat apa apa saat itu jadi saya langsung pulang," ungkap anak kelas 1 SMA itu.

Keterangan beberapa saksi yang ada di lokasi kejadian, saat ditemukan kedua jenazah berada di dua tempat yang terpisah."Pembantunya ditemukan di ruang dapur sementara sang majikan ditemukan di gudang dengan posisi tengkurap. Selain itu, saat ditemukan di tubuh sang majikan juga terdapat beberapa luka seperti luka tusuk di bagian dada kanan dan kiri, jantung serta di kepala mengeluarkan darah. Saat itu juga tidak jauh dari tubuh sang majikan juga terdapat sebuh tabung Elpiji berukuran 12 Kg yang penuh dengan bercak darah. Namun apakah korban dipukul dengan tabung itu belum tahu," jelas seorang kerabat korban.

Kapolsekta Kalidoni Palembang, AKP Tri Sumarsih yang datang langsung ke TKP menjelaskan, dari hasil olah TKP sementara, pelaku diperkirakan berjumlah antara 1-2 orang dan tidak lebih dari 3. Diperkirakan pelaku telah mengenal korban karena kalau tidak kenal, pintu tidak mungkin dibuka oleh korban dan dari hasil pintu tidak ada yang rusak.

Dari pantauan di tempat kejadian perkara (TKP), nampak di sepanjang jalan maupun di rumah korban dipadati dengan puluhan orang yang ingin menyaksikan secara langsung. Selain itu, hingga saat ini pihak kepolisian dari Polsekta Kalidoni Palembang masih melakukan olah TKP.Di rumah kediaman korban yang berbentuk leter L dan permanen ini, diberi garis polisi oleh penyidik.(TIM)



Kajati Riau Tahan Wakil Bupati Pelalawan Terkait Kasus Prroyek Perkantoran



Pelalawan- Kejaksaan Tinggi Riau menahan Wakil Bupati Pelalawan Marwan Ibrahim terkait kasus proyek perkantoran Bhakti Praja yang merugikan negara Rp 38 miliar. Setelah diperiksa tiga jam, Marwan digiring Ke Rumah Tahanan Sialang Bungkuk, Pekanbaru. Marwan ditetapkan sebagai tersangka sejak 23 Oktober 2013.

“Tersangka langsung kami tahan dan segera dilimpahkan ke persidangan,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Adnan, kepada wartawan, Kamis, (28/08/2014) lalu .

Menurut Adnan, Marwan terlibat pengadaan perluasan tanah perkantoran Bhakti Praja pada 2002-2011. Saat itu, Marwan menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Pelalawan. Marwan diduga menerima aliran dana sebesar Rp 1,5 miliar dari pengadaan lahan tersebut.
“Penyidik juga telah menyita rumah dan sebidang tanah milik tersangka,” kata dia.

Marwan telah menandatangani pembayaran uang muka untuk pembebasan lahan Bhakti Praja sebesar Rp 500 juta, tapi ia tidak bisa mempertanggungjawabkan penggunaannya. Padahal, dana itu bersumber dari kas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten Pelalawan Tahun 2002.


Untuk pembangunan perkantoran Bhakti Praja, Pemerintah Kabupaten Pelalawan membeli lahan kebun kelapa sawit milik PT Khatulistiwa Argo Bina, Logging Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di kawasan Dusun I Harapan Sekijang, seluas 110 hektare dengan harga Rp 20 juta per hektare.

Permasalahan timbul dalam pembebasan lahan tanah perkantoran tersebut. Pada 2002, lahan pernah dibebaskan dan diganti rugi oleh Pemkab Pelalawan. Ganti rugi ini dilakukan lagi dari 2007 hingga 2011. Akibatnya, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 38 miliar.

Dalam kasus ini,sebelumnya  Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Provinsi Riau telah menyeret empat mantan pejabat Kabupaten Pelalawan sebagai tersangka. Mereka sudah menjadi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pekanbaru.

Keempatnya yakni mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pelalawan Syahrizal Hamid, mantan Kadispenda Pelalawan Lahmuddin, mantan staf BPN Pelalawan Tengku Alfian Helmi, dan mantan Kabid BPN Al Azmi.(TIM)

Sabtu, 12 Juli 2014

Penyanyi Gamad Rustam Rachani Telah Tiada

Rustam Rachani Telah Tiada
Innalillahi wa innalillahi rojiun Penyanyi RUstam Rachani Telah tiada

Jika selama ini masyarakat luas hanya mengenal orang Minang memiliki profesi sebagai pedagang kaki lima, pengelola warung Padang, hingga pedagang sukses sekaliber konglomerat yang jauh dari hidup melarat maka Rustam Raschani justru sebaliknya.   Sebagai perantau, dia tidak pernah bercita-cita menjadi pedagang apalagi membuka restoran Padang di bulan sebagaimana keinginan sebagian besar orang Minang selama ini. Sungguh, mitos mengenai orang Minang dengan profesinya yang cenderung seragam itu terpaksa dipatahkan oleh seorang seniman musik,  penyanyi, dan sekaligus pencipta lagu Minang dan Gamad yang sudah berdomisili di Ibukota Jakarta ini sejak tahun 1969. Dialah Rustam Raschani, seorang seniman tuna netra yang berayahkan orang Tarusan, Pesisir Selatan dan beribukan orang Andaleh kota Padang. Rustam Raschani memang telah memilih jalur hidup yang sepi dan jauh dari gemerlap dan cerita “sukses” sebagian besar impian perantau asal Minangkabau di negeri ini.
 
Kamis (11/07/2014) malam Pencipta/penyanyi lagu Tarapuang-apuang, Rustam Raschani, telah berpulang ke rahmatullah.di RS.Polri Kramat Jati Jakarta Timur. Semoga amal ibadah almarhum diterima disisi ALLah SWT dan keluarga yang ditinggalkannya.diberikan ketabahan. Amin


Dia terlahir dengan nama Rustam di kota Padang pada tanggal 19 Juni 1948. Pada umur satu tahun menderita cacar di wajahnya. Akibat sulitnya pengobatan pada masa lalu, orangtuanya mencoba menyelamatkan wajah Rustam dari penyakit cacar melalui pengobatan tradisional.
 Namun, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, wajah tampannya berhasil selamat dari kerusakan akibat penyakit cacar itu tetapi matanya mengalami kebutaan akibat terkena cairan belerang. Akibatnya Rustam kecil tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak seperti anak-anak seusianya pada masa itu. Namun, semangat yang tinggi untuk mengenal dunia di luar batas jangkauan matanya yang buta, mengajarkan Rustam untuk memanfaatkan pendengarannya yang masih baik. Dengan berbekal pendengaran ia kerap ikut masuk belajar di kelas yang dipegang oleh kerabatnya di Jambi.

Belajar Menyanyi Secara Otodidak

Sebagai seseorang yang mengalami kebutaan sejak kecil, Rustam memilih radio sebagai hiburannya. Saking gemarnya mendengarkan radio sampai tidur pun dia membawa radio sebagai teman tidurnya bahkan hingga saat ini. Kegemarannya mendengarkan radio itu kemudian memberinya keuntungan yang ganda. Pertama memperoleh berita dan kedua belajar menyanyi melalui mendengarkan radio. Dengan kata lain kemampuan sebagai penyanyi dikemudian hari diperolehnya secara otodidak dengan mendengarkan acara hiburan dari radio. Berbekal semangat yang gigih itu pula kemudian ia mencoba belajar menyanyi dan tidak menyerah begitu saja pada kebutaannya. Dengan mengandalkan pendengarannya itulah, Rustam kemudian berhasil pula menjadi pencipta lagu Minang populer dan Gamad hingga saat ini.

Pada usia delapan tahun Rustam Raschani sudah menjadi anggota sebuah kelompok orkes bernama Varia Nada Muda di Tampino Jambi pada tahun 1963. Pada masa itu, Rustam Raschani yang lebih dikenal dengan nama kecil si Pitok sudah tampil di RRI Jambi dengan kelompok orkesnya tersebut. Kehebatannya sebagai penyanyi cilik pada masa itu telah menggugah hati seorang pegawai perusahaan minyak Belanda yang masa itu masih bernama Maschapij  Niam (yang kemudian menjadi cikal bakal Pertamina) yang beroperasi di Kinali Asam, Jambi. Orang Belanda tersebut pernah  menawarkan untuk melakukan pengobatan bagi matanya di negeri Belanda. Tetapi sayang, tawaran itu ditolak oleh kedua orang tua Rustam Raschani yang takut kehilangan anaknya.

Karier sebagai penyanyi lagu Minang dilanjutkannya ketika dia kembali ke kota kelahirannya Padang pada tahun 1963--1969. Awalnya sebagai penyanyi,  Rustam Raschani mengaku tidak begitu menyukai lagu bergenre Gamad. Dia lebih suka menyanyikan lagu pop Minang modern seperti lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Elly Kasim. Namun, kemudian pandangannya terhadap musik Gamad berubah. Bahkan kemudian dia mulai dikenal sebagai penyanyi Gamad dengan regek ‘lenggok’ suara yang amat sesuai sebagai penyanyi Gamad.

Pertama kali menciptakan lagu dilakukannya pada tahun 1965 dengan karyanya berjudul “Nasib Anak Dagang dan  Alah Bapunyo (Sudah Ada Yang Punya)”. Honor pertamanya sebagai pencipta lagu diterimanya sebanyak Rp7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah). “Bisa hidup selama tiga bulan pada masa itu” tuturnya.


Merantau Ke Ibu Kota (Jakarta)

Tahun 1969 Rustam Raschani mengikuti pepatah adat orang Minang yang sangat terkenal itu: “ke ratau madang dahulu berbuah berbunga belum; merantau bujang dahulu di rumah berguna belum”. Maka merantau pulalah Rustam Raschani menumpang di rumah orang tua angkatnya Bapak M. Zakir dan Ibu Nurian Lawat yang sudah lebih dahulu merantau ke Jakarta.  Kemudian,  melalui seorang sahabat, dia dikenalkan kepada Elly Kasim yang waktu itu sudah duluan pula menapakkan kakinya di Ibu Kota sebagai penyanyi Minang. Rustam Raschani mencoba peruntungannya sebagai penulis lagu Minang dengan memperlihatkan lagu ciptaannya yang pertama berjudul “Barangkek Kapa” kepada Elly Kasim pada tahun 1970-an. Namun, lagu itu justru kemudian dinyanyikan oleh Erni Djohan. Selanjutnya karya-karyanya mulai banyak dinyanyikan oleh penyanyi Minang profesional pada masa itu, seperti Oslan Husein yang berduet dengan Ernie Djohan, Elly Kasim, dan Lily Syarif (istri mantan gubernur Jambi beberapa tahun lalu).

Menurutnya beberapa lagu ciptaannya yang pernah popular di tengah penggemarnya adalah: “Tarapuang-Apuang (Terapung-Apung), Nasib Anak Dagang, Oi Bundo, Kasiah di Ambun Pagi (Kasih di Embun Pagi), Barangkek Kapa (Berangkat Kapal), Sabaleh Tahun (Sebelas Tahun), dan Alah Bapunyo (sudah ada yang Punya)”. Lagu-lagu ciptaan Rustam Raschani pada tahun 1970-an itu telah masuk dapur rekaman dan direkam dalam bentuk piringan hitam di studio Remaco di wilayah Kota.

 Karya-karyanya itu pada umumnya dinyanyikan oleh penyanyi lain maupun olehnya sendiri. Khusus untuk Lagu “Tarapuang-Apuang”, Rustam Raschani memiliki cerita tersendiri yang tidak terlupakan. Ketika pertama kali dia menyanyikan lagu itu di depan khalayaknya pada tahun 1973 di panggung utama Jakarta Fair, penonton memintanya menyanyikan lagu itu sebanyak tiga kali. Bahkan hingga saat ini, Rustam Raschanipun selalu didaulat oleh penggemarnya untuk menyanyikan lagu “Tarapuang-Apuang” ini disetiap pertunjukkannya. Meski kadang kala ia mengaku bosan juga setiap tampil harus  menyanyikan lagu yang sama.

Lagu ini sebetulnya menurut Rustam merupakan pesanan dari seorang sahabat yang meminta ia menuliskan sebuah syair lagu yang mengisahkan cinta segitiga. Cinta segitiga seorang lelaki perantau Minang. Dalam kisah cinta segi tiga itu, dikisahkan sebelah hati sang perjaka terpaut pada gadis di kampung halaman tetapi cintanya berlabuh pada gadis Jawa. Amboi, sebuah “dilema” cinta yang banyak diderita oleh lelaki perantau asal Minang kononnyo menurut Rustam Raschani. Untuk menggambarkan dilema yang sering dialami oleh lelaki perantau Minangkabau iRustam Raschani menyampaikannya dalam sebuah ungkapan syair lagunya yang berbunyi: “alah kalah randang jo tempe” (sudah kalah rendang oleh tempe). Alah mak jang!



Pengalaman Sebagai Penyanyi Profesional Minang

Pilihan untuk menjadi penyanyi profesional lagu Minang dan Gamad dimulainya pada tahun 1977 akhir. Untuk mewujudkan niatnya tersebut Rustam Raschani mencoba masuk dapur rekaman pertama kali pada awal tahun 1978 di studio rekaman RRI di bawah label Tanama Record  pimpinan Uda Asbas.  Kelompok Uda Asbas ini merupakan kelompok musik  Gamad pertama yang dimasukinya. Jauh berselang sejak ia menganggap genre musik ini sebagai selera kaum tua (tikam tuo) alias ketinggalan zaman. Namun, ternyata, aliran musik Gamad ini pula yang mengantarkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan dikenal sebagai seorang penyanyi musik Gamad dibandingkan dengan musik aliran pop Minang Modern. “Seingat ambo, lagu “Sekuntum Bunga di Tepi Taman” adalah lagu Gamad ciptaan Uda Asbas yang sempat popular pada masa itu dan amat sering diputar di Radio Republik Indonesia” kenangnya.

Intensitasnya yang tinggi dengan dunia musik terutama dengan kelompok musik lokal di perantauan membawanya ke sebuah perjalanan panjang bersama sejumlah kelompok Band yang sudah dimulainya sejak kecil kemudian diteruskannya dengan mengikuti beberapa kelompok Band lainnya setelah dewasa terutama di Jakarta. Misalnya, ia tercatat pernah bergabung bersama:

1. Band Loswita Rama pimpinan  Lim Campay, di Perwakilan Pemda Sumbar

Matraman, Jakarta Pusat (1971-1972);

2. Orkes Gamad Sinar Harapan pimpinan Pak Herman di Asrama UI, Pengangsaan

Jakarta Pusat (1974--1975);

3. Orkes Gamad Gurindam Minang pimpinan One Maemunah di Tanah Tinggi, Ja-

karta Pusat (1977);

4. Orkes Gamad Tanama pimpinan Uda Asbas di Dukuh Pinggir (1978-1979);

5. Orkes Gamad Dayung Palinggam pimpinan Aslim Didong ayah Waty Yusuf di

Jakarta (1979);

6. Orkes Gamad Keluarga Minang di Roxy, Jakarta Barat (1980- an awal).



Selain menjadi penyanyi dan memainkan beberapa alat musik seperti bansi dan gitar, Rustam Raschani juga menciptakan lagu. Baik lagu pop Minang maupun lagu Gamad. Diantaranya yang populer adalah lagu Gamad yang berjudul “Ranah Pasisie dan Joged Talibun”. Hingga saat ini tidak kurang dari 100 (seratus) buah lagu karya yang sudah diciptakan oleh Rustam Raschani sepanjang karirnya sebagai seniman musik dan lagu dalam bahasa Minang. Dan kurang lebih 50 (lima puluh) album berupa cassette dan CD lagunya (baik bergenre Pop Minang Modern maupun Gamad) yang sudah direkam dan beredar luas di tengah masyarakat. Beberapa Albumnya yang sudah beredar di tengah penggemarnya adalah:

“Saputiah Hati” (Seputih Hati )

“Minang Tacinto” (Minang Tercinta)

“Tarapuang-Apuang” (Terapung-Apung)

“Sate Piaman” (Sate Pariaman)

“Silasiah” (Album Gamad)

“Sampaya Pabayan” (Album Gamad)

“Kasiah di Bulan Tujuah” (Kasih di Bulan Tujuh) (Album Gamad)

“Kambang Botan (Singkawang)” (Album Gamad)

“Rimbo Larangan” (Rimba Larangan) (merupakan album Gamadnya yang paling anyar).



Namun, sebagaimana nasib penyanyi lagu berbahasa daerah pada umumnya, Rustam Raschani masih minus dari kekayaan materi  maupun  royalti atas jerih payahnya itu. Rumahnya yang sederhana di dalam gang di daerah Ciracas, Jakarta Timur, merupakan satu-satunya harta berharga yang dimilikinya. Rumah itu diperolehnya dari hasil kontrak menyanyi yang dikumpulkannya selama lima tahun dan pembangunannya dilakukannya dengan cara berangsur-angsur dengan menggunakan bayaran sebagai penyanyi berbahasa daerah yang meretas hidup di Ibukota sejak 38 tahun silam. Meski tidak “seberuntung” seniman musik asal Minang lainnya, secara materi, Rustam Rascahni yang memilik tiga orang putra (yang hidup hanya dua), tetap mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh sang Pencipta kepadanya dan keluarganya. “Saya bangga karena berhasil menyekolahkan putri saya (Ratna Permata Sari) hingga ke jenjang kuliah di IPB jurusan Fisika”, katanya. Sementara Putra keduanya bernama Achtara Trianda pun sudah bekerja saat ini. Keberhasilan yang paling hakiki bagi Rustam Raschani sebagai seorang seniman berbahasa daerah adalah ketika karya lagunya dinikmati dan diapresiasi oleh khalayak pendengarnya.  Kebutaan yang dialaminya merupakan satu berkah tersendiri baginya. Sebab menurutnya, seandainya dia tidak buta, dia berkeinginan menjadi politisi. Rasa percaya dirinya yang tinggi sebagai seorang penyanyi terlihat ketika dia sudah di hadapan kamera. Dan pada saat itulah kita bisa menyaksikan betapa sebuah kekurangan tidak serta merta membuat seorang Rustam Raschani menjadi rendah diri tetapi sebaliknya menjadikannya sebagai modal untuk berdaya guna sebagai seorang seniman musik dan penyanyi berbahasa daerah.

Hingga saat ini ia mengayuh biduk berumah tangga bersama Isnawati asal Pitalah, Padang Panjang, Sumatera Barat. Pasangan ini telah membina rumah tangga sejak 8 Februari 1984. Cinta mempertemukan mereka berdua pertama kali di Radio Nusantara Jakarta. Ketika itu,  Rustam Raschani bekerja sebagai penyiar di radio tersebut. Pengalaman sebagai penyiar radio ternyata tidak hanya di Radio Nusantara. Dia juga pernah menjadi penyiar di Radio Pembangunan. Albama, Nusantara Djaya dan lainnya.  Saat ini Rustam Raschani melanjutkan karirnya sebagai penyanyi solo.  Dia menunggu undangan (jemputan) dari komunitas urang awak di rantau khususnya Ibu Kota di rumahnya di Jalan H. Baping, Gang Damai, RT 016, RW 04, No 107, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur,  dengan santai dan tidak ngoyo.

Berbincang-bincang dengan Rustam Raschani di rumahnya di dalam gang di Ciracas membuat kita pendengarnya lupa dengan waktu. Tidak terasa tiga jam berlalu sekejap saja. Mendengarkan kisah hidup Rustam Raschani, kita seolah dibawa melihat kilas balik “sejarah” dunia rekaman urang awak yang awal di Jakarta tempo dulu. Melalui kisah dan pengalamannya kita mengingat kembali nama Syaiful Bahri putra Minang asal Suliki sebagai orang Minang pertama yang membuka orkes studio pada tahun 1950-an  di Jakarta dan akhirnya meninggal di Malaysia.

Melalui pengalaman dan daya ingat seorang Rustam Raschani pula kita mengenang kembali nama-nama seniman musik dan penyanyi daerah Minang dan Gamad masa silam. Rustam membawa kita kembali mengingat nama seniman Amir NT pencipta lagu Gamad “Sinar Bulan, Talang Saligi, dan Sarunai Aceh”, juga Taswir Zubir, Lim Campay,  Oslan Husein, Pak Kadir (pemain biola handal asal Bayang), dan lainnya. Rustam juga menceritakan wilayah persebaran musik Gamad di kota Padang yang dulunya hanya sebatas Simpang Haru hingga Lakuak. Berdasarkan sejarahnya, pada zaman penjajahan Hindia Belanda di Minangkabau, kesenian Gamad ini lebih dikenal dengan nama Balenso Madam.

 Sebuah kesenian yang berkembang di kota Padang dan diperkenalkan oleh bangsa Portugis yang pernah menguasai Pulau Nias dan kota Padang pada abad silam. Konon kabarnya masyarakat Nias  yang dibawa sebagai kuli kontrak ke kota Padang pada masa lalu itulah yang kemudian mempopulerkan kesenian Gamad ini. Sehingga tidaklah mengherankan jika Gamad lebih dikenal luas di sekitar wilayah pesisiran Sumatera Barat saja khususnya di kota Padang pada masa itu. Karena kebanyakan komunitas Nias tersebut menetap di kota Padang terutama di wilayah pesisirannya.



“Pertunjukkan musik Gamad pada mulanya hanya menggunakan alat musik biola, harmonium (sejenis accordion yang dijalankan dengan cara memompanya), gendang (rabana), dan kemudian ditambah dengan gitar dan string bass”, tuturnya. “Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa asal-usul Gamad pada mulanya kesenian urang mamukek yang sering berpantun saat di perahunya”, tambah Rustam Raschani.  “Syair lagu berupa pantun itu bisa dinyanyikan dengan irama riang ataupun mendayu-dayu. Atau lebih dikenal dengan istilah langgam dan jogged” tambahnya.

Selain dikenal di Minang, musik Gamad juga dikenal luas di daerah Melayu lainnya seperti, di Riau Daratan, Riau kepulauan, Tanah Deli, hingga ke tanah Semenanjung (Malaysia).

Sebagai seniman musik, mata Rustam Raschani boleh buta, tetapi mata hatinya senantiasa terbuka dan hal itu dibuktikannya dengan sikap rendah hatinya yang selalu mengingat jasa orang-orang yang pernah membimbingnya hingga bisa menjadi penyanyi. Seperti jasa seorang Ibu guru ketika ia masih di Jambi berpuluh tahun lalu bernama Syamsiar yang telah mengajarinya bernyanyi dan membaca tiwatil Quran. Sikap rendah hatinya itu diperlihatkannya pula dengan mengatakan bahwa dirinya bukanlah sehebat penyanyi Gamad seperti, Yan Juned yang jauh lebih senior dan lebih populer dibandingkan dirinya.

Ketika ditanyakan pendapatnya mengenai perkembangan musik dan lagu Minang saat ini, Rustam Raschani mengaku agak sedikit kecewa karena selera pasar mengalahkan idealisme seorang seniman dalam berkarya. “Hakikat keindahan lagu Minang itu terletak pada syairnya yang menggunakan pantun atau ibarat dan bukan bahasa sehari-hari begitu saja yang dinyanyikan”. Katanya.

 Rustam Raschani juga menyayangkan lagu-lagu Minang yang disampaikan dengan nada cengeng. “Pantang bagi laki-laki Minang itu memperlihatkan tangisnya. Jikapun menangis air mata itu akan ditelannya”. Demikian komentarnya terhadap lagu-lagu Minang (khususnya yang dibawakan oleh penyanyi lelaki) yang saat ini banyak bernada cengeng, meratap, ataupun berhiba-hiba belaka.  “Bagi ambo, penghargaan yang paling tinggi itu adalah ketika masyarakat menghargai karya Ambo”, tambahnya ketika ditanyakan apakah sudah pernah Rustam Rachani memperoleh penghargaan dari pemerintah daerah atau lainnya. Semoga di masa yang akan datang, penghargaan dari pemerintah khususnya Pemda Sumbar akan menghampiri Rustam Raschani (Rasyidin-Chairani Chaniago).

Biodata:

Nama: Rustam Raschani (Rasyidin-Chairani Chaniago)

Tempat/tgl lahir: Andaleh, Padang, 19 Juni 1948

Istri: Isnawati asal Padang Panjang

Anak: 1. Riski Saputra: 26 Februari 1985 (alm)

2. Ratna Permata Sari, 28 Mei 1986

3.Achtara Trianda, 13 Agustus 1988

Album yang sudah beredar:

“Saputiah Hati” (Seputih Hati )

“Minang Tacinto” (Minang Tercinta)

“Tarapuang-Apuang” (Terapung-Apung)

“Sate Piaman” (Sate Pariaman)

“Silasiah” (Album Gamad)

“Sampaya Pabayan” (Album Gamad)

“Kasiah di Bulan Tujuah” (Kasih di Bulan Tujuh) (Album Gamad)

“Kambang Botan (Singkawang)” (Album Gamad)
“Rimbo Larangan” (Rimba Larangan) (merupakan album Gamadnya yang paling anyar)(horison Online)

Kamis, 10 Juli 2014

Walikota Palembang dan Istri Resmi Ditahan KPK

Jakarta- Sehari setelah melakukan coplos, Wali Kota Palembang, Romi Herton dan istrinya, Masyito, resmi ditahan. Keduanya ditahan setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap penanganan sengketa Pilkada Kota Palembang dan pemberian keterangan yang tidak benar di persidangan.

"Romi Herton dan Masyitoh  ditahan untuk 20 hari pertama," kata Jurubicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo, di kantornya, Kamis sore (10/07/2014).

Johan menyebut, keduanya ditahan di dua tempat terpisah. Romi ditahan di rumah tahanan POM DAM Jaya di Guntur, Jakarta Selatan, sedangkan Masyito ditahan di rumah tahanan KPK yang terletak di basement gedung itu.

Usai pemeriksaan, Romi mengatakan siap mengikuti proses hukum KPK, termasuk langkah penahanan terhadapnya. Adapun Romi keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 17.40 WIB. Romi terlihat mengenakan rompi oranye KPK.

"Saya kira tidak ada langkah apapun. Semua akan taat hukum. Saya serahkan semuanya," terang dia.

Sementara itu istrinya, Masyito masuh bungkam. Dia keluar dari ruang pemeriksaan selang empat menit dari Romi.

Romi dan Masyito sudah ditetapkan sebagai tersangka beberapa waktu oleh KPK. Keduanya dijerat dengan Pasal 6 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 64 ayat 1 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. Keduanya juga disangka melanggar Pasal 22 jo Pasal 35 ayat 1 UU Tipikor.(Rmol)