Radio Minang Saiyo Online

Selasa, 30 Juli 2013

Direktur Orchid Kembali Ke Rutan Pakjo Palembang


Palembang- Setelah dirawat beberapa hari di RS Charitas Palembang Direktur Utama Apartemen Orchid Hartono Gunawan selaku terdakwa kasus dugaan penipuan pemberian giro kosong kembali ke rumah tahanan setelah mampu menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, Selasa (30/07/2013)


Dalam sidang dengan majelis hakim ketua Ali Makki SH dTerdakwa menyatakan kepada Majelis Hakim yang diketuai Ali Makki dalam kondisi sehat dan mampu melanjutkan persidangan meskipun duduk di kursi roda. Lantaran pernyataan itu, hakim ketua melanjutkan pembacaan putusan sela yang sempat tertunda pada pekan lalu karena terdakwa pingsan di ruang sidang dan langsung mendapatkan perawatan menginap di Rumah Sakit Charitas.

 Pembacaan putusan sela itu juga dihadiri terdakwa kedua (Fende Petrus Yong Fendi). "Majelis Hakim memutuskan menolak nota keberatan terdakwa karena dakwaan Jaksa Penuntut Umum telah memenuhi unsur dalam Pasal Pasal 143 ayat (2) jo Pasal 143 ayat (3) KUHP," kata Majelis Hakim.Berdasarkan keputusan itu, sidang akan dilanjutkan seusai Lebaran dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.Majelis Hakim juga memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk mengembalikan terdakwa ke Rumah Tahanan Klas I Pakjo.Palembang.


Sementara, JPU Dahasril menyatakan terdakwa dalam kondisi sehat berdasarkan pemeriksaan dokter. "Meskipun masih dalam perawatan dokter, tapi terdakwa dinyatakan dalam kondisi normal dan mampu mengikuti sidang sehingga dipaksa hadir hari ini," ujar Dahasril. Terkait dengan pemantauan kondisi fisik Hartono, menurutnya kembali menjadi tanggung jawab tim dokter Rutan atau tidak lagi dialihkan ke RS Charitas, Palembang.

 edangkan, kuasa hukum terdakwa Rusmin Wijaya dan Bregas Andariksa menyatakan akan menyiapkan saksi-saksi yang meringankan menyusul keputusan Majelis Hakim yang menolak nota keberatan. "Sebenarnya kondisi terdakwa masih dalam perawatan dokter, namun dalam rangka efisiensi waktu maka bersedia hadir untuk mendengarkan putusan sela yang sempat tertunda. Untuk saksi, kami telah memiliki daftarnya," kata Rusmin.

Keduanya terdakwa sendiri telah mendekam di rumah tahanan sejak 17 Juni 2013 atas laporan pengusaha properti HM Muhdi Abu Bakar, karena menerima pembayaran hutang dalam bentuk giro kosong senilai Rp2,03 miliar.    Pada sidang sebelumnya, JPU menolak nota keberatan kedua terdakwa dan tetap dalam dakwaan yang menyatakan bahwa terdakwa dengan tipu muslihat atau rangkaian kebohongan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang, memberi hutang, atau menghapus hutang piutang para periode November-Desember 2011.


 Dalam dakwaan itu dipaparkan aksi terdakwa diawali berkenalan dengan HM Muhdi Abu Bakar selaku Komisaris Utama PT Sukses Bersama Centerpoin, dan mengajak bekerja sama untuk pembangunan Orchid Residence Apartemen di Palembang yang dijanjikan bakal menjadi apartemen mewah pertama di kota itu. Untuk meyakinkan korban, Hartono Gunawan membeli saham PT Sukses Bersama Centerpoint dan sepenuhnya diambil alih Hartono dan Petrus untuk menjalankannya.

 Namun, untuk menjalankan aksinya agar pembangunan Orchid tetap berjalan, kedua tersangka ini meminjam uang kepada HM Muhdi Abu Bakar dengan total Rp2,1 miliar.  Pinjaman kemudian dibayarkan dengan 14 lembar giro Bank BCA dan 10 lembar Bank Mandiri, ternyata setelah dicairkan tidak terdapat dananya. Berdasarkan perbuatan terdakwa ini maka JPU mengenakan hukuman pidana Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.  Pembangunan Apartemen Orchid menuai masalah karena pengembang mengalami kesulitan dana, sehingga merugikan sekitar 150 orang pembeli yang terlanjur telah menyerahkan uang muka berkisar puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah.

 Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah menetapkan pada 18 Maret 2013 agar pengembang mengajukan rencana perdamaian dengan para pembeli berupa penggantian kerugian, mengingat target penyelesaian bangunan pada Desember 2011 tidak tercapai.(era)